New Posting :

LABORATORIUM LAPANGAN KECAMATAN PRINGGABAYA LOMBOK TIMUR

Jumat, 12 April 2013


LABORATORIUM LAPANGAN SISTEM PERTANIAN LAHAN KERING BERBASIS SUMUR POMPA AIR TANAH DALAM DENGAN TENAGA ENERGI SURYA DI KECAMATAN PRINGGABAYA LOMBOK TIMUR
(Prof Ir. Suwardji Ph.D., I Gst Lanang Partatanaya, Ph.D., Dewa Jaya Kertanegara MT)



Kerjasma :
Kementrian Riset dan Teknologi, Universitas Mataram, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan Kelompok Tani Bukit Keramat Desa Pringgabaya Utara Lombok Timur

PEMANFAATAN TEKNOLOGI SISTIM POMPA AIR BERTENAGA SURYA DALAM PENGAMBILAN AIR TANAH UNTUK PENYEDIAAN AIR IRIGASI LAHAN KERING DI DUSUN DASAN BARU DESA PRINGGABAYA UTARA, KECAMATAN PRINGGABAYAKABUPATEN LOMBOK TIMUR PROVINSI NTB



Pelatihan Pengelolaan dan Perawatan Pompa air bertenaga surya pada masyarakat kelompok tani Bukit Keramat, pengelola sumur pompa dan mahasiswa Unram di Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur Provinsi NTB, melibatkan tim peneliti Unram dan Kementerian Ristek seperti pada gambar di atas. Pelatihan diberikan dalam rangka meningkatkan wawasan peserta tentang teknologi surya panel dan sistim pompanya, sebelum diklakukan pembangunan pemasangan sistim panel surya dengan pompa airnya di Pringgabaya Utara.



Kegiatan pemasangan rangka dudukan panel surya melibatkan masyarakat petani Bukit Keramat, mahasiswa dan staf pengajar Universitas Mataram. Dalam kegiatan ini mahasiswa dilibatkan sekaligus persiapan tempat penelitian tugas akahirnya. Setelah pemasangan instalasi panel surya selesai dikerjakan, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan jaringan listrik untuk pompa air yang melibatkan tim teknis pompa sehingga keberhasilan pelaksanaan pemasangan jaringan pada pipa pompa dapat dilakukan dengan baik. Bersamaan dengan itu kemudian setelah jaringan dicek dengan saksama maka dilanjutkan dengan pengujian pompa bertenaga surya. Dari hasil pengujian yang dilakukan diketahui pompa air bekerja dengan baik dan berhasil memompa air tanah dalam dari sumur yang baru dibuat, debit aliran yang dapat dialirkan sekitar 4lt/dt sd 5 lt/dt dalam kondisi puncak.Sedangkan pada saat pengujian dilakukan, musim masih menunjukkan musim penghujan sehingga penyinaran matahari tidak begitu ful dapat diterima oleh panel surya. Kondisi tersebut dapat dilihat gambar berikut.

Pengeboran Air Tanah Dalam

Di lokasi penelitian sebenarnya sudah ada pompa yang menggunakan bahan bakar solar dengan kondisi masih baik. Pembangunan sumur baru ini khusus diperuntukan bagi pompa air bertenaga surya, sehingga tidak mengganggu sumur yang sudah ada.


Berdasarkan data hasil pengeboran oleh PAT diketahui kedalam sumur yang dibor mencapai 105 m dari muka air tanah setempat, dan sumur yang dihasilkan ditunjukkan pada gambar berikut.


Selanjutnya dilakukan pemasangan pompa air dengan pipa 2,5 inchi menggunakan tripod. Setelah jaringan listrik dari panel surya siap maka kemudian dilakukan pengujian sumur pompa yang sudah dipasang, ditunjukkan gambar berikut.


air poma tenaga surya yang dihasilkan tersebut ditampung pada bak berukuran sekitar 7m x 17m x 2 m yang akan ditujukan untuk menampung penyediaan air irigasi lahan kering dilokasi ini. yaitu untuk irigasi lahan kering, pendidikan masyarakat sekitar lahan kering dan wisata lahan kering. Dengan memperhatikan panorama perbukitan yang ada, dilokasi tersebut berpotensi dikembangkan sebagai lokasi agrowisata tanaman horti di wilayah timur Indonesia.



Panel surya terpasangan disekitar bak penampung air, kondisi kolam yang sudah jadi dimanfaatkan untuk 1) penyediaan air irigasi lahan kering, 2)tempat penelitian jaringan irigasi lahan kering dan uji usahatani lahan kering, 3) disiapkan juga untuk tempat pelatihan usahatani, 4) sebagai tempat penelitian bagi mahasiswa dalam penyelesaian studi S1, S2 dan S3 dan 5) untuk lokasi agrowisata. Air pompa yang ditampung dalam bak dimanfaatkan penerapan sistim irigasi hemat air, irigasi sprinkle dan irigasi tradisional didukung oleh infrastruktur yang terbangun sangat memadai untuk penelitian dan pengembangan agribisnis khususnya tanaman hortikultura sayuran dan buah-buahan di lahan kering.



Memperhatikan kondisi hamparan lahan kering yang ada, semua kegiatan tersebut potensial dilakukan ditempat ini dan alam sangat mendukung, sehingga kedepan teknologi yang telah diberikan kementerian ini dapat memberi manfaat yang lebih luas untuk mendukung peningkatan kesejateraan masyarakat (I. Dewa Jayanegara, Pusat Penelitian dan Pengembangan Lahan Kering Tropika).

Kontak Person :

I Dewa Jayanegara ST., MT. (HP.081805760692)
Pusat Penelitian dan Pengembangan Lahan Kering Universitas Mataram
Jalan Pendidikan No. 37 Telp 0370-628143 

Kemantapan Agregat Setelah Aplikasi Biochar di Tanah Lempung Berpasir

Minggu, 24 Juni 2012


Kemantapan Agregat Setelah Aplikasi Biochar di Tanah Lempung Berpasir (Sandy Loam) pada Pertanaman Jagung di Lahan Kering
Kabupaten Lombok Utara*

Suwardji 1),  W.H. Utomo2), dan Sukartono 1)
1Pusat Penelitian dan Pengembangan Lahan Kering Universitas Mataram, 2 International Recearch Centre for Management of Degraded and Mining Land (IRC-MEDMIND) University Brawijaya Malang

ABSTRAK
Evaluasi terhadap perubahan kemantapan agregat tanah dilakukan menjelang satu tahun setelah aplikasi biochar musim hujan 2010/2011 pada tiga siklus tanam jagung  di lahan kering Kabupaten Lombok Utara.  Pengambilan contoh tanah tidak terusik (undisturbed) (3 titik kedalaman 0-20 cm) pada bekas petakan lahan yang telah diperlakukan dengan biochar dan pupuk kandang dilakukan satu bulan setelah panen jagung siklus tanam ke-3.  Lahan tempat pengambilan contoh tanah merupakan petakan yang telah menerima perlakuan bahan pembenah organik sebagai berikut: biochar tempurung kelapa (BTK), biochar kotoran sapi (BKS), aplikasi pupuk kandang satu musim tanam (PKA), aplikasi pupuk kandang berulang setiap musim tanam (PkB) dan tanpa pembenah tanah sebagai kontrol (K). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah aplikasi biochar selama 1 tahun dapat meningkatkan nilai kemantapan agregat tanah secara terbatas. Nilai kentapan agregat tanah pada petak perlakuan biochar adalah 61,37% dan 61,18% masing-masing untuk BTK dan BKS, sedangkan perlakuan PkA, PkB dan kontrol masing masing 58,44% dan 66,62% dan 57,11%.  Peningkatan kemantapan agregat tanah setelah aplikasi bahan pembenah organik tersebut berkorelasi positif dengan  meningkatnya  partikulat bahan organik -C (POM-C) dan kemampuan retensi air tanah. Hasil penelitian ini menyarankan diperlukan modifikasi aplikasi biochar dan pupuk kandang untuk pengelolaan jangka panjang pada sistem pertanaman jagung di lahan kering pasiran Lombok Utara.   

Kata kunci: biochar, kemantapan agregat tanah, jagung, empung berpasir, lahan kering


I.    PENDAHULUAN

Provinsi Nusa Tengara Barat (NTB), memiliki potensi lahan kering yang cukup besar yakni sekitar 1.807.463 ha atau 84% dari luas wilayah NTB (Suwardji et al., 2004). Oleh karena itu pengembangan pertanian lahan kering untuk tanaman pangan dan peternakan dalam arti luas sangat prospektif dilakukan di wilayah lahan kering NTB. Dari potensi sumberdaya lahan kering NTB tersebut, wilayah Kabupaten Lombok Utara memiliki potensi lahan kering sekitar 38.000 hektar untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan sampai saat ini baru sekitar 30% yang dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan khususnya jagung dan produktivitasnya masih sangat rendah (Suwardji, 2007). 
Produktivitas tanaman yang rendah tersebut berkaitan erat dengan karakteristik tanah yang kurang memadai untuk mendukung pertumbuhan optimal tanaman yakni tanah  bersifat porous, kemantapan agregat tanah lemah, dan yang lebih ekstrim adalah tanah lempung berpasir ini miskin bahan organik (C-organik <1,0%)  (Lolita dan Sukartono, 2007; Suwardji et al., 2007).  Lebih jauh,  tanah tersebut juga  mempunyai kemampuan retensi air dan kapasitas tukar kation tanah yang  rendah  (Suwardji et al.., 2007). Salah satu sifat fisik tanah lainnya yang penting adalah stabilitas agregat tanah yang berperan penting mempengaruhi fungsi tanah dalam menyediakan air, udara dan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman (Suwardji dan Eberbach, 1998).  Tanah dengan kemantapan agregat yang lemah dan miskin bahan organik memiliki kemampuan retensi air dan hara rendah sehingga kondisi fisik seperti ini menyebabkan rendahnya efisiensi pemupukan (Suwardji et al., 2007).  
Bahan organik merupakan salah satu agensia pengikat partikel tanah terpenting di daerah tropik. Sehingga rendahnya bahan organik pada tanah lempung berpasir lahan kering di wilayah ini mempengaruhi kemantapan agregat tanah yang ada. Tidak mengherankan jika tanah di wilayah lahan kering Kabupaten Lombok Utara, stabilitas agregat tanahnya tidak mantap serta  retensi air dan hara yang rendah yang merupakan permasalahan utama dalam pengelolaan tanah pasiran lahan kering Kabupaten Lombok Utara. Variabel tersebut di atas menjadi faktor kunci yang sangat menentukan keragaan  pertumbuhan dan produktivitas tanaman pangan khususnya jagung dan kacang tanah di lahan kering di Kabupaten Lombok Utara.
Mencermati fenomena di atas maka pengelolaan tanah yang berorientasi  pada  perbaikan kualitas tanah termasuk upaya meningkatkan  kemantapan agregat tanah  sangat penting untuk diperhatikan dalam upaya optimalisasi pemanfaatan lahan kering pasiran untuk pengembangan tanaman pangan di Provinsi NTB.  Praktek pengelolaan ini dapat dilakukan dengan penambahan bahan pembenah tanah yang mempunyai pengaruh jangka panjang dalam meningkatkan dan  mempertahankan stabilitas C-organik tanah.  Salah satu bahan yang memiliki sifat kemampuan seperti ini adalah biochar. Penambahan bahan pembenah tanah berbasis biochar di tanah pasiran lahan kering tersebut diharapkan sebagai solusi alternatif untuk meningkatkan kandungan C-organik tanah dan perbaikan sifat fisiko kimia tanah yang menunjang  tata air dan hara yang memadai untuk pertumbuhan dan hasil tanaman jagung.
Berbeda dengan bahan organik lainnya, biochar sebagai pembenah tanah memiliki sifat rekalsitran, lebih tahan  terhadap oksidasi dan lebih stabil dalam tanah sehingga memiliki pengaruh jangka panjang terhadap perbaikan kualitas kesuburan tanah (C-organik tanah dan KTK) (Steiner et al., 2007).  Biochar mempunyai waktu tinggal dalam tanah cukup lama, sehingga penggunaan biochar sebagai pembenah tanah selain memperbaiki sifat fisiko-kimia tanah juga dapat merupakan penyimpan karbon (carbon sink) yang baik (Wolf, 2008).  Glaser et al. (2002) menunjukkan bahwa pengkayaan tanah akan karbon melalui penambahan biochar berpengaruh positif terhadap sifat tanah antara lain stabilitas agregat tanah, KTK tanah, kandungan C-organik tanah, retensi air dan hara.  Potensi biochar  dalam perbaikan kesehatan tanah khsusnya di daerah tropika basah sudah mulai banyak diungkap para peneliti (Asai, et.al. 2009; Chan, et.al. 2008;Lehmann and Rondon, 2006), tetapi kajian di lahan kering semi arid tropis masih sangat terbatas.  Makalah yang disajikan dalam seminar ini merupakan hasil evaluasi kemantapan agregat tanah  pada sebuah percobaan lapangan aplikasi biochar di tanah lempung berpasir (sandy loam) yang telah ditanami jagung dalam kurun waktu tiga musim tanam di lahan kering Kabupaten Lombok Utara.



II. METODE PENELITIAN

2.1.     Pengambilan Contoh tanah 
            Pengambilan contoh tanah tidak terusik untuk analisis stabilitas agregat dilakukan pada petak lahan bekas percobaan lapangan aplikasi biochar (Sukartono et al., 2011) di tanah lempung berpasir di Desa Akar- Akar, Kec. Bayan Lombok Utara (08o 13’ 6,70 – 08o 25’ 16,70” LS dan 116o 19’ 18,17” – 116o 23’ 54,62” BT). Contoh tanah dalam ring sampel (diameter 7,0 cm dan tinggi 5,2)  juga diambil untuk untuk analisis retensi air dan B.V. tanah.  Sampel tanah diambil pada kedalaman 5-10 cm pada petak pertanaman jagung yang telah mendapat perlakuan pembenah organik sebagai berikut: (1) Biochar tempurung kelapa (BTK), (2) Biochar kotoran sapi (BKS), (3) Pupuk kandang  hanya sekali aplikasi  (PkA), (4) Pupuk kandang aplikasi setiap musim tanam (PkB) dan (5) tanpa pembenah tanah (K). Contoh tanah (75 contoh dari 5 perlakuan x 3 ulangan x 5 titik) diambil secara acak pada  5 titik setiap petak perlakuan. Pengambilan contoh tanah terusik juga dilakukan untuk penetapan POM-C diakhir musim tanam ke-3(MT3).
2.2.         Sejarah singkat petak bekas percobaan aplikasi biochar  
            Petak perlakuan berukuran 3,5 m x 4 m dengan tinggi bedeng 10 cm dan jarak antar petak perlakuan 0,5 m dan antar blok 1,2 m. Bahan pembenah organik (biochar dan pupuk kandang) diberikan dengan takaran 15 ton ha-1 disebarkan dan dibenamkan secara merata pada kedalaman 10 cm bersamaan dengan pengolahan tanah. Biochar (BTK dan BKS) dan pupuk kandang (PkA) diaplikasikan hanya sekali selama tiga musim tanam jagung yaitu satu minggu sebelum tanam jagung pertama (MT1), sedangkan perlakuan 4 ( PkB), pupuk kandang  diberikan setiap kali musim tanam. Selang 7 hari sejak inkubasi pembenah organik, petak percobaan dipertahankan lembab dengan penyiraman air mencapai ± 80% kapasitas lapang.
Secara teknis seluruh kegiatan agronomis  pertanaman jagung pada petak percobaan dilakukan sama untuk setiap siklus musim tanam jagung MT1, MT2 dan MT3.  Benih jagung (hybrida) ditugal sebanyak 2 biji perlubang sedalam 5 cm. Penugalan benih jagung dengan  jarak tanam 20 cm x 70 cm, dilakukan 7 hari setelah inkubasi bahan pembenah organik (MT1). Pupuk anorganik yang digunakan adalah Urea, SP-18 dan KCl. Pupuk pengandung P dan K diaplikasikan sebagai pupuk dasar dengan takaran 75 kg P2O5 ha-1  dan 75 kg K2O ha-1. Pupuk nitrogen (135 kg N ha-1) diberikan dua kali  yakni 40% (54 kg N ha-1)  diberikan pada saat tanaman  berumur 21 HST(hari setelah tanam) dan 60% (81 kg N ha-1) pada umur 45 HST. Diakhir siklus MT3 (satu minggu setelah panen jagung), evaluasi kemantapan agregat dan kandungan particulate organic matter-C dan retensi air tanah dilakukan untuk setiap petak perlakuan.
2.3.   Penetapan Stabilitas agregat, particulate Organic matter-C dan Retensi air tanah
Analisis stabilitas agregat dilaksanakan menggunakan agregat lolos mata saring 4-10 mm sekitar 400 gram pada saat tanah dalam keadaan lembab. Ukuran agregat ini yang dipilih karena agregat ukuran inilah yang stabilitasnya dipengaruhi oleh pengaruh pengelolaan tanah (Suwardji dan Eberbach, 1998). Bongkah tanah yang besar dipecahkan secara manual dengan tangan, kemudian contoh tanah dimasukkan dalam bejana plastik dan ditutup rapat selanjutnya disimpan dalam ruang dingin (4oC) sebelum dianalisa.  Analisis kemantapan agregat dilakukan dengan cara pengayakan kering dan basah (Kertonegoro, dkk., 1998).  Ayakan yang digunakan adalah ayakan dengan diameter lubang 8,00 mm; 4,76 mm, 2,83 mm; 2,0 mm; 1,0 mm; 0,5 mm dan 0,30 mm.  Rerata  berat diameter (MWD) dihitung menggunakan pendekatan:
MWD (Nyangamara, et.al., 2001).
 Xi adalah rata-rata diameter fraksi ukuran ke i, Wi adalah proporsi berat agregat pada fraksi ukuran ke i. Nilai dari MWD pada pengayakan kering dan basah digunakan untuk menghitung nilai kemantapan agregat sebagai berikut:  Kemantapan agregat = {1: MWD kering-MWD basah)} x 100%
Penetapan Particulate organic matter-C (POM-C) dilakukan dengan fraksionasi bahan organik pada ukuran partikel 250 µm, 150 µm, dan 50 µm dengan pengayakan basah (Hairiah, 2011).  Retensi air tanah diukur pada isapan setara dengan pF 1,0; 2,0; pF 2,54 dan 4,2. Kapasitas air tersedia dihitung dari perbedaan kandungan lengas tanah pF 2,54 dan kandungan lengas pF 4,2.
III.    HASIL DAN PEMBAHASAN
Stabilitas agregat tanah
Berdasarkan hasil evaluasi terhadap stabilitas agregat tanah  (Gambar 1), terlihat bahwa aplikasi  pembenah organik (biochar dan pupuk kandang) mempunyai kontribusi terhadap meningkatnya nilai stabilitas agregat tanah.  Pupuk kandang yang diaplikasikan setiap musim tanam jagung (PkB)  menunjukkan nilai stabilitas agregat yang sebanding dengan stabilitas agregat tanah yang diperlakukan dengan biochar. Perlakuan biochar menunjukkan nilai stabilitas agregat 61,37 % dan 61,18% (BTK dan BKS) dan aplikasi pukan setiap musim tanam (PKB) sebesar 66,62%.  Aplikasi tunggal pupuk kandang (PkA) tidak menyebabkan perubahan yang substansial terhadap stabilitas agregat tanah.  Kecenderungan meningkatnya stabilitas agregat tanah ini mempunyai hubungan yang kuat dengan  meningkatnya kandungan particulate organic matter-C (POM-C) dengan nilai r 0,60. 
Gambar 1. Stabilitas agregat tanah (% MWD) sahar pada sistem pertanaman jagung di tanah lempung berpasir (sandy loam) di lahan kering Lombok Utara.

Particulate Organic Matter-C (POM-C)
Data POM-C pada beberapa petak perlakuan pembenah organik setelah lahan ditanami jagung selama tiga musim tanam (Gambar 2) menjadi penguat peran pasokan pembenah organik terhadap stabilitas C-organik tanah.  Kandungan POM-C yang diamati pada beberapa ukuran fraksionasi (>250, 150 dan 50 µm), menunjukkan bahwa tanah yang diberikan biochar (BTK dan BKS) dan pupuk kandang aplikasi setiap musim tanam (PkB), secara konsisten lebih tinggi dibandingkan POM-C fraksi tanah yang berasal dari petak tanpa pembenah. POM-C fraksi halus (50 µm) dari sampel tanah petak biochar dan perlakuan pupuk kandang setiap musim tanam (PkB) masing-masing  2,2 dan 1,8 kali lebih tinggi dibanding POM-C tanah pada petak kontrol.
Gambar 2. Perbandingan Particulate organic matter-C (POM-C) petak perlakuan
                 biochar dengan pupuk kandang diakhir MT3.

Kondisi ini berbeda dengan perlakuan PkA yakni pupuk kandang yang hanya diaplikasikan sekali selama tiga siklus musim tanam tersebut, tidak menyebabkan perubahan yang substansial terhadap kandungan POM-C khususnya fraksi partikulat halus (50 µm). Lebih tingginya nilai POM-C petak perlakuan biochar dan pupuk kandang setiap musim tanam (PkB), khususnya POM-C fraksi halus (50µm), menjadi indikasi awal peluang perbaikan stabilitas agregat tanah jangka panjang, karena fraksi tersebut merupakan pool-C yang lebih stabil dan kurang sensititif terhadap pengelolaan tanah.  Lebih detail dapat diungkap bahwa meningkatnya nilai POM-C khususnya fraksi halus (50 µm) sebagaimana ditunjukkan Gambar 2, dapat menjadi petunjuk yang nyata tentang perbaikan stabilitas C- tanah jangka panjang, karena POM-C tersebut merupakan pool-C yang relatif lebih stabil karena dapat membentuk formasi organo-clay-complexs atau ketika biochar juga sebagai bagian dari fraksi mikro tersebut dapat berada dalam formasi biochar-organo-clay complex  yang lebih tahan terhadap perombakan. Bahan organik tanah yang berada dalam fraksi mikroagregat mengalami proteksi terhadap akses perombakan sehingga menjadi lebih stabil dari pada bahan organik yang berada pada makroagregat (Brodowski et al., 2006), terlebih ketika biochar sebagai bagian dari mikroagregat. Tentu hal ini membutuhkan prasarat bahwa agregate tersebut tidak dirusak secara fisik seperti oleh pengolahan tanah dan terekspose kondisi oksidasi karena pengolahan tanah (Suwardji, 2004).
Sedangkan C-organik yang terdapat pada makroagregat (≥ 250 µm) lebih labil sehingga keberadaannya dalam tanah lebih cepat mengalami perubahan dan merupakan pool-C  yang lebih peka terhadap pengelolaan tanah (Tisdall & Oades, 1982). Penelitian terdahulu oleh Sukartono dan Suwardji (1999) melaporkan bahwa faktor kandungan bahan organik tanah lebih dominan dari pada kandungan kapur dan liat sebagai penentu stabilitas agregat tanah untuk lahan kering di Pulau Lombok.  Kontribusi C-organik yang sedemikian besar sangat beralasan karena bahan organik berperanan penting sebagai agen perekat partikel tanah menjadi unit struktur yang lebih mantap (Tisdall &Oades, 1980). Stevenson (1982) menjelaskan bahwa bahan organik dalam tanah dapat memberikan andil yang cukup besar dalam pertukaran gas  dalam tanah, menstabilkan susunan butir tanah, sehingga mengurangi resiko perusakan lapisan atas tanah oleh pukulan air hujan. Tisdall & Oades (1982) melaporkan bahwa C-organik tanah merupakan bahan yang paling penting dalam stabilitas agregat pada lapisan tanah atas tanah-tanah pertanian.  
Retensi Air tanah
Hasil evaluasi retensi air tanah dari contoh tanah yang diamati setelah tiga musim tanam (Gambar 3) menunjukkan bahwa  masukan bahan pembenah organik (biochar dan pupuk kandang) berkontribusi menaikkan retensi air tanah. Aplikasi biochar memberikan kontribusi terhadap meningkatnya kadar air tanah kapasitas lapang (pF 2,5) sebesar 22-23 % (BTK dan BKS), sedangkan pupuk kandang setiap musim tanam (PkB) sebesar 38% dan aplikasi tunggal pukan (PkA) sebesar 13%.

Gambar 3. Retensi air tanah  (A) pF 0; 1,0; 2,0; pF 2.5; pF 4.2 dan kapasitas air tersedia tanah  (B) pada berbagai perlakuan pembenah organik setelah tiga musim tanam jagung

  Meningkatnya kandungan kandungan air kapasitas lapang yang signifikan setelah aplikasi biochar juga telah dilaporkan oleh beberapa peneliti sebelumnya (Glaser et al., 2002 dan Chan et al., 2007). Dalam kaitan dengan perbaikan retensi air tanah, Atkinson et al. (2010) menekankan bahwa manfaat yang besar dari penambahan biochar terhadap meningkatnya kemampuan retensi air tanah hanya ditunjukkan pada tanah berpasir.
IV.    KESIMPULAN
Dalam waktu satu tahun (tiga siklus musim tanam jagung), aplikasi biochar dapat meningkatkan stabilitas agregat tanah sebanding dengan pupuk kandang yang diaplikasikan setiap musim tanam.  Adanya peningkatan kemantapan agregat tanah setelah aplikasi bahan pembenah organik tersebut berkorelasi positif dengan kandungan  partikulat organic matter-C (POM-C) dan retensi air tanah.   Dengan demikian maka strategi pengelolaan tanah berpasir di lahan kering Pulau Lombok harus mengacu pada pengelolaan tanah yang mampu memperbaiki atau meningkatkan kandungan bahan organik tanah dalam jangka panjang yang dapat mempunyai pengaruh yang positif terhadap perbaikan stabilitas agregat dan sifat-sifat fisiko kimia lainnya. Kondisi seperti ini sangat penting dalam rangka mempertahankan produktivitas lahan kering untuk mendukung pengembangan agribisnis tanaman pangan secara berkelanjutan.


DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, C.J., Fitzgerald, J.D. & Hipps, N.A., 2010. Potential mechanisms for achieving agricultural benefits from biochar application to temperate soils: a review. Plant Soil. 337: 1-18
Brodowski, S., John, B., Flessa, H & Amelung, W., 2006. Aggregate-occluded black carbon in soil. European Journal of Soil Science 57(4) : 539-546.
Chan, K.Y., Van Zwieten L., Meszaros I., Downie A. & Joseph S., 2007. Agronomic values of green waste biochar as a soil amendment. Australian Journal of Soil Research, 45, 629–634
Glaser B., Lehmann, J. & Zech W., 2002. Ameliorating physical and  chemical properties of highly weathered soils in the tropics with charcoals A review. Biol. Fertil. Soils 2002. 35: 219 - 230.
Lehmann, J.,  2007. Bioenergy in the black. Front Ecology Environment 5, 381–387
Lehmann, J., Gaunt, J & Rondon M., 2006. Biochar sequestration in terrestrial ecosystems. A review, mitigation and adaptation strategies for global change. 11:403-427.
Lolita, E.S dan Sukartono, 2007. Respon tanaman bawang merah (Allium ascalonicum) yang diinokulasi MVA pada ragam cara pemberian bahan organik dan jeda pengairan di lahan kering Pulau Lombok. Prosiding Kongres Nasional HITI  5-7 Desember 2007, YOGYAKARTA.
Sukartono dan Suwardji (1999). Anasir-anasir yang bertanggung jawab terhadap stabilitas agregat tanah dari berbagai jenis tanah dari Pulau Lombok dan Sumbawa. Agroteksos. 8 (4): 1-6.
Sukartono, W.H. Utomo, Z. Kusuma, and W.H. Nugroho, 2011. Soil fertility status, nutrient uptake, and maize (Zea mays L.) yield following biochar and cattle manure application on sandy soils of Lombok, Indonesia Journal of Tropical Agriculture 49 (1-2) : 47-52, 2011
Sukartono, Utomo, W.H., Nugroho, W.H. & Kusuma, Z., 2011. Simple biochar production generated from cattle dung and coconut shell. J. Basic Appl. Sci. Res. 10: 1680-1685.
Suwardji (2004). Olah Tanah Konservasi untuk Menuju Pertanian yang Berkelanjutan. University Mataram Press. 128 halman.
Suwardji dan Eberbach, P.L. (1998). Seasonal changes of physical properties of an Oxic Paleustalf after 16 years of direct drilling or conventional cultivation. Journal Soil and Tillage Research 49: 65-77.
Suwardji, Suardiari, G & Hippi A., 2007. Meningkatkan efisiensi air irigasi dari sumber air tanah dalam pada lahan kering pasiran Lombok Utara menggunakan teknologi irigasi sprinkler big gun. Prosiding Kongres Nasional HITI IX, 5-7 Desember 2007, YOGYAKARTA.
Suwardji, Tejowulan, R., Rakhman, A & Munir B., 2004. Rencana strategi pengembangan lahan kering Provinsi NTB. Bappeda, NTB. pp157
Tisdal, J.M. dan Oades, J.M (1980). The effect of crop rotation on aggregation in Red brown Earth. Aust J. Soil Research. 18: 423-434
Tisdal, J.M. dan Oades, J.M (1982). Organic matter and water stable aggregate in soils. Journal Soil Science. 33: 141-163

Penggunaan Indek Pengelolaan Karbon Sebagai Indikator Sistem Pertanian yang Berkelanjutan pada Budidaya Pertanian Lahan Kering di Kabupaten Lombok Utara

Sabtu, 26 Mei 2012


(The Use of Carbon Management Index as An Indicator for Sustainable Agricultural

Merajut Hutan dan Lahan yang Rusak Melalui Pemberdayaan Pondok Pesantren

Prof. Ir. Suwardji, M.App.Sc.,Ph.D.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Lahan Kering Universitas Mataram

Menjadikan Pertanian Lahan Kering Sabagai Program Unggulan Nasional UNRAM: Realitas atau Mitos

Rabu, 09 Mei 2012

Oleh: Prof. Ir. Suwardji, M.App.Sc., Ph.D.
Guru Besar Mata Kuliah Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering

Lahan Kering di NTB

Mataram (Suara NTB)
Kekeringan dalam jangka panjang harusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dalam lima tahun terakhir, luas areal lahan kering bertambah sangat signifikan dari 64 persen dari areal yang ada, menjadi 82,34 persen.

Kepada Suara NTB, Kamis (18/8) kemarin, Kasubag Sumber Daya Lahan, Biro Kerjasama Sumber Daya Alam, Setda NTB, Ir. Arlita Khaeroni, menyiratkan tingginya pertambahan luas areal lahan kering yang ada di NTB. Persentase luasan lahan kering tersebut, merupakan angka yang cukup besar bagi wilayah NTB.

‘’Data itu kita inventaris dari lintas instansi, lalu kita rangkum kembali. Dalam lima tahun terakhir, tampak terjadi penambahan luas lahan kering dari 64 persen menjadi 83.24 persen,” ungkap Arlita, via handphone.

Secara umum disebutkan Arlita, kontribusi lahan pertanian terbesar tetap disumbang oleh wilayah pertanian di kawasan Pulau Sumbawa. Namun di Lombok juga tidak kalah mendorong kontribusi, terutama di bagian Lombok Selatan.
Sejalan dengan informasi yang disebutkan Kepala Dinas Sosial, Kependudukan dan Catatan Sipil (Dinsosdukcapil) NTB, Drs. H. Bahruddin, M.Pd., pada koran ini sebelumnya, di Lombok Selatan saja, tercatat ada tiga titik kekeringan baru. Di Lombok Utara dua titik, dan Lombok Timur dengan tiga titik. Bahruddin mengindikasikan, munculnya titik-titik kekeringan baru ini dari adanya permintaan kiriman air bersih kepada warga yang berada di wilayah-wilayah tersebut.
Dilanjutkan Arlita, pihaknya sejauh ini masih menghimpun data valid luasan lahan kering yang sebenarnya di Provinsi NTB. Kendati pihaknya sudah memiliki catatan data kekeringan lima tahun terakhir, namun akan diagnosa kembali data riil kekeringan terkini.

“Teman-teman masih mencari data, ada yang baru pulang dari Pulau Sumbawa. Sejauh ini sudah kita inventaris data-data dari seluruh kabupaten/kota, kecuali KLU (Kabupaten Lombok Utara),” sambungnya.

Arlita melanjutkan, belum terpenuhinya data kekeringan dari Lombok Utara disebabkan di kabupaten termuda itu cukup susah mencari datanya. Salah satu penyebabnya, SKPD yang menangani lahan kering digabung setidaknya lima SKPD lain. Di KLU diketahui, beberapa dinas seperti pertanian, perkebunan, kehutanan digabung jadi satu. Hal ini bagi Arlita, cukup sulit bagi SKPD bersangkutan untuk menginventaris data secara cepat, tepat dan akurat.

Sementara itu, Pemerhati Lahan Kering, Prof. Ir. Suwardji, M.App. SC. Ph.D., secara terpisah mengaku khawatir pula dengan kondisi meluasnya kekeringan pada lahan pertanian ini. Suwardji meyakini, kekeringan yang berdampak terhadap terganggunya suplai irigasi warga akan mengganggu stabilitas dan kontinyuitas produksi lahan pertanian.

‘’Perlu dipetakan areal-areal potensial untuk dikembangkan, karena di beberapa tempat areal (pertanian) yang sudah tidak menjamin keberlanjutan produksi. Berdasarkan pemetaan itu, mau tidak mau harus dirubah pola tanamnya. Saya contohkan di bagian Selatan, dulu suplai air masih sekitar 11 meter kubik, sekarang 5 meter kubik saja tidak nyampe,’’ demikian Suwardji.

Kekeringan Melanda Dompu

Sementara dari Dompu dilaporkan, kekeringan mulai melanda Kabupaten Dompu dan sekitarnya sebagai danpak dari musim kemarau. Kemarau panjang ini dikhawatirkan akan merusak tanaman khususnya jagung di daerah tadah hujan dan daerah irigasi non tekhnis. Untuk mengantisipasi kelangsungan tanaman ini, Dinas Pertanian (Distan) Dompu juga telah membagikan pompa air kepada petani.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Distan Dompu, M Syahroni, SP, MM kepada Suara NTB di kantornya, Kamis (18/8) kemarin, mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum mendapat laporan dari petani dampak kekeringan saat ini. Kondisi ini terjadi di hampir seluruh wilayah di Dompu. “Tapi untuk tanaman pertanian di wilayah Huu, Pajo, Woja, dan Dompu aman,” kata Syahroni.
Kekhawatiran pihaknya, lanjut Syahroni, sebagai danpak dari kemarau tahun ini terhadap tanaman petani. Namun kekhawatiran itu, sejauh ini tidak ada masalah, kecuali untuk wilayah Manggelewa. Karena di tanaman petani seperti jagung dan palawija dilakukan di sawah yang masih bisa dijangkau air irigasi. Sementara di wilayah Manggelewa, tanaman jagung petani di daerah yang dekat dengan mata air. “Kita khawatir, karena mata air sudah mulai berkurang. Sementara tanaman jagung di Manggelewa sekarang lagi banyak membutuhkan air,” terangnya.

Dikatakan Syahroni, luas area tanaman jagung pada musim kemarau (MK) di Dompu mencapai 3.035 hektar dari target yang ditetapkan 5 ribu hektar. Namun jumlah capaian target ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2009 yang hanya 1.980 hektar. Dari 3.035 hektar ini tersebar di seluruh kabupaten diantaranya kecamatan Dompu 330 hektar, Woja seluas 501 hektar, Kempo 380 hektar, Huu seluas 409 hektar, Kilo seluas 350 hektar, Pekat seluas 380 hektar, Pajo seluas 235 hektar, dan Manggelewa seluas 450 hektar.

Mengantisipasi danpak kekeringan di Dompu, Dinas Pertanian Dompu melakukan pompanisasi. 22 unit pompa sumur dalam dibagikan Distan kepada petani untuk membantu irigasi tanaman petani. “Kita sudah distribusikan 22 unit pompa sumur dalam untuk membanti irigasi tanaman petani,” kata M Saleh Too, Kasubdin Pemanfaatan Lahan dan Air Dinas Pertanian Dompu. (joe/ula)
 
© Copyright 2010-2011 Prof. Suwardji All Rights Reserved.
Powered by Fahmi Tri Wendrawan.